Football Handicap Analysis_Baccarat Techniques and Strategies_Baccarat Website_Baccarat Pack Winning Method

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan catur thailand

KTexas Hold'em Downloadalau Texas HolTexas Hold'em Downloadd'em Downloadditanya soal menikah, baik Armando ataupun Winda mengaku punya keinginan tersebut. Tapi, keduanya tidak ingin cepat-cepat menikah bila memang belum waktunya. Meskipun usia Armando telah menginjak kepala tiga, ia tetap santai menjalani setiap proses hidup. Sama halnya dengan Winda. Bahkan Winda tak masalah dengan status jomlo yang disandangnya. Ia enggan buru-buru menjalin kasih, apalagi hanya karena kesepian. Yang terpenting adalah menemukan orang yang tepat.

Menikah itu sakral dan suci, tak perlu buru-buru | Photo by Daria Obymaha on Pexels

Ada kalanya dorongan untuk menikah dari orang lain memang dibutuhkan. Nah, bila dorongan dan tekanan sudah mengganggu, saatnya ia menjauhkan diri. Ia akan memberi batas agar tidak selalu bersinggungan dengan orang-orang tersebut.

“Fokus dengan diri sendiri dulu, baru ke orang-orang sekitar seperti keluarga. Juga lebih ingin menikmati jadi diri sendiri dulu karena lembaga pernikahan harus banyak kompromi ya dari dua belah pihak. Dan saya belum siap untuk membagi hidup dengan orang lain,” terang Winda.

“Kalau nggak Sabtu, ya Minggu, om dan tante,” kata Armando menerangkan kalimat andalannya saat ditanya kapan nikah.

“Nomor satu (dalam hidup) adalah pertumbuhan diri. Sebetulnya, ini yang aku maksud tadi, (tumbuh hingga mencapai rasa) damai sejahtera. Kalau diejawantahkan, kedewasaan berpikir dan bertindak. Put everything in the right perspective. Kalau aku melihat sesuatu masih ada kata ‘seharusnya’ (syarat penyerta), maka aku belum memakai kacamata yang tepat untuk memandang hal itu. Aku akan merasa damai sejahtera jika bisa melihat sesuatu seapaadanya, tanpa kata ‘seharusnya’ ,” terangnya.

Pernikahan itu komitmen yang sakral. Aku melihatnya dari sisi agama, jadi pernikahan itu institusi yang paling suci, ya. Paling kecil sekaligus paling suci gitu. Jadi, ikatan antara dua orang yang disatukan oleh agama, disatukan oleh Tuhan. Untuk akhirnya membangun kebahagiaan,” ungkap Armando. 

Nggak dimungkiri oleh Armando, ia punya target menikah sebelumnya. Saat berumur 25 tahun, ia pernah punya bayangan akan menikahi sang pacar di umur 27 tahun. Tapi, rencana itu gagal. Pengalaman pahit itu ternyata mengajarkannya banyak hal, terutama soal hubungan dan pernikahan. Sejak saat itu, ia sadar kalau menikah memang bukan ajang perlombaan; siapa yang cepat, ia yang menang.

Dalam prinsipnya, hidup sebaiknya dijalani dengan semeleh; tetap berusaha dan berdoa, tapi biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya. Sesuai namanya, istilah Jawa ini berasal dari kata seleh atau deleh yang berarti meletakkan. Kalau dalam bahasa Indonesia, semeleh sama dengan berserah diri.

Sebagai perempuan yang berusia seperempat abad dan tinggal di desa, Winda dianggap sudah cukup tua. Julukan “perawan tua” bisa saja disematkan padanya. Selain ia tak pernah ambil pusing, keluarganya pun cukup santai ternyata. Orangtua Winda lebih mendukungnya kuliah lagi daripada menikah. Ia sadar desakan orangtua mungkin akan datang sekitar 3 tahun ke depan. Namun, ia tetap dengan pilihannya; tidak buru-buru menikah. Apalagi ia memang belum punya bayangan menikah sampai jangka waktu ke depan.

Punya target dalam hidup itu wajar, seperti target dalam hubungan, finansial, pencapaian, atau keluarga. Akan tetapi, sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan. Supaya tidak terlalu sakit dan kecewa bila gagal.

Pertanyaan “kapan nikah?” dipastikan akan tetap ‘berumur’ panjang dan terus selalu muncul dalam perbincangan saat bertemu kawan, tetangga, atau keluarga besar. Terlebih lagi jika usiamu sudah mendekati atau melewati usia yang dianggap ideal untuk menikah, dengungan pertanyaan ini akan terus terdengar layaknya alarm pagi yang berbunyi tiap hari.

Armando sendiri sudah punya ancang-ancang. Ketika memang pernikahan bukan fase yang harus dijalani, ia akan hidup untuk keluarga. Ia masih bisa menyalurkan kasih sayang pada keponakan dari adik-adik atau teman-temannya. Selama pilihan itu membuatnya damai, maka tidak masalah jika memang tidak menikah.

Beruntungnya, orangtua Armando pun tidak mendesaknya untuk mengakhiri masa lajang. Di sisi lain, Armando tidak pernah terusik dengan pertanyaan semacam itu. Baginya, pertanyaan tersebut bisa menjadi pendorongnya untuk tetap menikah. Ketika menjalani hidup, ia memilih untuk tetap menjaga jalannya tetap di ‘tengah’. Terlalu ngoyo pengin menikah, tidak bagus. Terlalu ekstrem sampai enggan menikah, juga dianggap aneh secara sosial.

Namun, uniknya, pertanyaan ini sekarang tampaknya disikapi dengan lebih santai oleh banyak anak muda. Pertanyaan terus berdatangan sih, tapi mungkin anak muda kini sudah punya kekebalan tersendiri dan perubahan mindset tentang pernikahan. Banyak anak muda yang menolak batasan umur ideal untuk menikah di usia 25 tahun. Dibanding tergesa-gesa atau merasa terpaksa, mereka akhirnya justru memutuskan menunda atau nggak memprioritaskan pernikahan walaupun sudah masuk usia matang.

Karena penasaran, Hipwee berusaha meminta opini beberapa orang yang memang mengaku sengaja menunda atau nggak memprioritaskan pernikahan meski umur mereka sudah ‘pantas’. Beda dari asumsi kebanyakan yang membayangkan orang single atau ‘telat’ menikah itu nggak bahagia atau merana, mereka justru secara sadar memilih untuk nggak buru-buru menikah demi mengejar kebahagiaan. Daripada harus merasa terpaksa menikah karena paksaan orang tua atau standar masyarakat, lalu berakhir nggak bahagia.

“Rasanya tidak akan sakit kalau misal kamu punya target hidup, tapi dijalani dengan semeleh gitu. Jadi, semua hasilnya diserahkan pada tuhan. Kamu bisa merasa lebih tenang,” kata Armando saat ditemui Hipwee.

Belum memiliki rencana menikah dalam waktu dekat, Winda mengungkapkan sedang fokus pada pendidikan. Setelah menuntaskan studi nantinya, ia juga belum punya keinginan segera menikah. Ia memilih untuk fokus bekerja. Bahkan ia sudah mengingatkan adik bungsunya untuk mendahuluinya, bila sang adik memang akan menikah secepatnya.

Pertanyaan “kapan nikah?” lumayan sering ia terima dari orang sekitar. Biasanya, ia cenderung diam atau mengabaikan. Terkadang ia langsung mengiyakan ketika menerima saran atau nasihat yang bernada memaksa. Agar obrolan itu tidak berlanjut.

Yuk kita dengar cerita Armando Yuniar Radityawan (31 tahun) dan Winda Noviati (25 tahun) yang nggak terburu-buru menikah dan tetap enjoy aja tuh dengan status single alias nggak punya pasangan hidup~

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Dengan berpegang prinsip itu, Armando tetap berusaha untuk menikah. Usaha itu tentu terus dilakukannya. Tapi, ia tidak mau memaksakan hasilnya bila Tuhan memang belum mengizinkan. Prinsip semeleh membuatnya lebih damai dan tenang. Tak cuma soal hubungan, Armando menyerahkan hasil dari semua proses hidupnya pada Sang Pencipta.

Armando lebih santai lagi soal menanggapi pertanyaan “kapan nikah?”. Hidup di perantauan, jauh dari kerabat dan keluarga nyatanya berdampak positif untuknya. Ia jarang mendengar pertanyaan tersebut. Kalau pun ditanya, ia malah menjawab dengan bercanda.

Dari hasil penelitian Singerman berjudul The Economic Imperatives of Marriage: Emerging Practices and Identities among Youth in the Middle East, waithood ternyata bukan cuma didorong oleh keinginan semata. Faktor eksternal yang kompleks justru kerap memaksa seseorang untuk menunda pernikahan, misalnya kondisi finansial dan kemiskinan.

Sementara itu, sebenarnya Winda melihat pernikahan bukan sesuatu yang membebaninya. Namun, pernikahan bukan pula proses yang mudah dan asal dijalani. Dibutuhkan keberanian dan kesiapan. Menurutnya, ini bukan persoalan harus menikah di umur tertentu atau kondisi tertentu. Lantaran butuh kesiapan itu, Winda memutuskan nggak buru-buru. Ia pengin menata hidupnya dulu sembari menikmati waktu sendiri.

Saking santainya dalam memandang pernikahan, Armando dan Winda sama-sama membuka opsi tidak menikah. Apabila memang jalan hidupnya seperti itu. Bagi Winda, lebih baik sendiri selamanya jika tidak menemukan pasangan yang tepat. Ia memilih sendiri dan bahagia ketimbang berpasangan, tapi hidupnya penuh duka.

Pada akhirnya, setiap orang berhak memutuskan dan memilih jalan hidupnya, termasuk soal pernikahan. Kita nggak perlu memaksakan kehendak pada orang lain. Apalagi sampai menekan seseorang untuk segera menikah atau tidak menikah seumur hidup. Selama pilihan itu nggak merugikan dan membuatnya bahagia, kita harus menghormati dan menghargainya.

Tetap bahagia, meski belum punya pasangan hidup? Bisa kok~ | Illustration by Hipwee

Tetap santai dan bahagia, meski belum punya pasangan | Photo by Daria Obymaha on Pexels

“Lingkungan pergaulan juga tidak terburu-buru untuk menikah. Mulai dari teman SMA, kuliah, atau yang sudah kerja. Rata-rata belum menikah, meski umurnya sudah 30 tahunan. Jadi lingkungan pertemanan saya sangat santai,” ungkap Winda.

Tidak ingin dipaksa atau merasa terpaksa untuk segera menikah | Photo by Alvin Mahmudov on Unsplash

Pernah dengar fenomena waithood?

Ramai-ramai orang menunda pernikahan atau waithood disebut sebagai tren global yang menjangkiti anak muda di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Istilah ini dicetuskan oleh Diane Singerman, seorang profesor tata pemerintahan dari School of Public’s Affair of American University, Washington DC. Melepas status lajang dan menerjunkan diri ke institusi pernikahan bukan prioritas tunggal yang harus disegerakan. Meskipun umur sudah dianggap masuk usia tua dan matang.

Sedangkan Armando mempunyai pandangan lain. Walaupun menikah tidak menjadi satu-satunya prioritas, ia memandang pertumbuhan dirinya lebih penting. Proses dirinya menjadi sosok yang dewasa dalam bertindak dan berpikir menempati peringkat nomor satu dalam hidup.

Cara pandang Armando soal pernikahan akhirnya memengaruhi keputusan-keputusannya. Tidak mau menodai pernikahan yang suci dan sakral, ia berusaha menikah dengan pasangan yang tepat dan di waktu yang tepat pula. Daripada ia buru-buru menikah, tapi ujung-ujungnya berpisah.