Sejarah Masuknya Kopi di Ind「Buy lottery tickets online」onesia, Belanda Bawa Benih Arabika ke Jawa Halaman 2

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan catur thailand

Buy lottery tickets onlinedapatkaBuy lottBuy lottery tBuy lottery tickets onlineickets onlineery tickets onlinen informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Dalam buku ‘Kopi’, disebut bahwa saat ini tanaman kopi arabika bisa dengan mudah ditemui di beberapa daerah penghasil kopi. Daerah tersebut seperti dataran tinggi Ijen, Tanah Tinggi Toraja, pegunungan Bukit Barisan, Mandailing, Lintong, Sidikalang, dan Gayo.

Belanda berusaha untuk menanggulanginya dengan menanam varian liberika untuk menggantikan tipika Jawa, tapi gagal.

Suasana perkebunan kopi di Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018). Kopi Gombengsari yang dikenal dengan kopi robusta berkualitas terbaik memiliki ciri aroma khas buah kelapa dan cara memasaknya yang berbeda yaitu menyangrai dengan kuali tanah liat dan menumbuk biji kopi dengan kayu hingga jadi bubuk.

Sementara benih kopi yang ada di Jardin des Plantes di Paris, dibawa oleh perwira angkatan laut Perancis ke Martinique, koloni Perancis di Karibia. Semakin tersebarlah kopi Jawa tersebut di dunia.

Untuk meneliti kualitasnya, Belanda mengirimkan benih kopi dari Ciliwung ke kebun botani di Amsterdam. Hasilnya, kopi tersebut berkualitas bagus.

Perkebunan kopi di Indonesia pun semakin meluas. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Joan van Hoorn mulai mendistribusikan bibit kopi ke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan, dan pesisir utara Jawa.

Ternyata, tanaman kopi robusta lebih tahan karat daun dan bisa selamat dari hama tersebut. Bahkan konon katanya nama robusta sendiri berasal dari kata ‘robust’ yang berarti kuat.

Karena serangan jamur tersebut, Jawa kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton kopi dan menyebabkan pasar kopi dunia panik. Penyakit karat daun ini pertama kali ditemukan di Sri Lanka pada 1869.

Baca juga: 8 Kedai Kopi Legendaris di Jakarta, Kopi Es Tak Kie sampai Kwang Koan Kopi Johny

Tak sampai di situ, pada awal 1720-an, Belanda juga mengirimkan benih kopi Jawa ke Suriname.

Sampai akhirnya pada 1900, perusahaan perkebunan Soember Agoeng di Jawa Timur membeli 150 benih kopi varian robusta dari Pembibitan Hortikultura Kolonial di Brussels, Belgia. 

Kopi arabika tersebut diproduksi khusus menjadi kopi specialty yang punya nilai ekonomis sangat tinggi.

Kala itu tanaman kopi diserang jamur Hemileia vastatrix atau disebut penyakit karat daun. Pasalnya, jamur tersebut memakan daun membuatnya seperti berkarat hingga akhirnya tanaman kopi pun mati.

Namun popularitas Java Coffee mulai surut pada 1880.

Sejak itu perlahan-lahan kopi robusta mulai menggantikan arabika di Indonesia hingga kini. Indonesia berhasil menjadi salah satu produsen kopi robusta terbesar di dunia sampai sekarang.

Penyakit ini terutama memusnahkan kopi arabika dari Sri Lanka hingga Timor termasuk Indonesia yang ditanam di bawah ketinggi 1 km dpl. Sejak itu, Brasil dan Kolombia mulai menjadi eksportir kopi arabika terbesar hingga saat ini.

Jejak kopi Jawa di Amerika Latin, menurut Prawoto, masih bisa dilihat hingga sekarang. Terdapat tipika yang sama dengan yang berasal dari Jawa masa lampau di kebun kopi kawasan Amerika Latin.

Secara perlahan popularitas kopi arabika juga mulai merangsek naik. Terutama dengan adanya budaya minum kopi yang erat di masyarakat Indonesia. Ditambah semakin banyaknya kedai kopi bertebaran hingga ke pelosok.

Pembibitan Hortikultura Kolonial yang mengembangkan benih kopi robusta. Robusta sendiri merupakan jenis asal Kongo.

Mereka ingin mengembangkan perkebunannya di sana. Dari kedua wilayah tersebut, benih kopi Jawa semakin tersebar ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Selanjutnya pada 1706, tanaman kopi berhasil tumbuh dengan baik di beberapa wilayah di Jawa.